Langsung ke konten utama

KDRT dan Cara Menyikapinya

KDRT dan Cara Menyikapinya


Innalilahi wa innailaihi rojiun

Tak henti-hentinya mengucap istighfar karena belum lama ini melihat berita tentang anak yang dibunuh bapak kandungnya sendiri, bahkan sampai empat anak sekaligus. Bahkan, baru-baru ini juga ada berita seorang perwira Brimob yang diberhentikan dengan tidak hormat. Dan, semuanya itu akibat KDRT yang dilakukan.

Miris banget, karena makin banyak kejadian KDRT yang kita saksikan, bahkan mungkin ada di lingkungan terdekat kita. Nah, agar lebih paham tentang KDRT dan apa tindakan kita apabila melihat bahkan (amit-amit) mengalami KDRT tersebut, berikut penjelasannya.

Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT).

Hingga kini KDRT menjadi isu kekerasan yang menjadi sorotan banyak masyarakat, hal ini tentunya menjadi sebuah tindakan yang perlu mendapat perhatian khusus dan tidak dapat dipermainkan oleh setiap pasangan, terlebih jika pasangan tersebut telah memiliki anak. Sebab, KDRT tentunya membahayakan jika dibiarkan. Pada kenyataannya, KDRT sering terjadi disebabkan oleh hal kecil, seperti misalnya lupa sesuatu yang diminta, terlambat menyiapkan makanan, lupa menyetrika pakaian dan hal-hal kecil lainnya.

KDRT merujuk pada segala bentuk perilaku atau tindakan kekerasan yang terjadi dalam lingkup rumah tangga. Ini dapat mencakup kekerasan fisik, emosional, seksual, atau ekonomi yang terjadi antara anggota keluarga atau pasangan. KDRT dapat memiliki dampak serius terhadap korban, baik secara fisik maupun mental, sehingga penting untuk menyadari bahwa KDRT tidak dapat dibenarkan dan merupakan pelanggaran hak asasi manusia. Banyak negara telah mengadopsi undang-undang dan kebijakan untuk melindungi korban KDRT dan menghukum pelaku kekerasan. Jika Kamu atau seseorang yang Kamu kenal mengalami KDRT, sangat penting untuk mencari bantuan dan dukungan. Banyak organisasi dan lembaga yang dapat memberikan bantuan serta sumber daya untuk membantu korban KDRT.

KDRT memiliki penyebab yang kompleks dan bervariasi. Beberapa faktor yang dapat menyebabkan terjadinya KDRT antara lain:
  • A. Faktor Individu.
Beberapa faktor individu yang dapat berkontribusi terhadap terjadinya Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) melibatkan karakteristik atau kondisi psikologis seseorang. Beberapa di antaranya melibatkan:
  1. Kemarahan dan Kontrol Diri. Individu dengan tingkat kemarahan yang tinggi atau rendahnya kontrol diri cenderung lebih rentan terhadap tindakan kekerasan dalam situasi konflik.
  2. Gangguan Mental. Masalah kesehatan mental seperti gangguan mood, kecemasan, atau trauma masa lalu dapat memengaruhi keseimbangan emosional dan berkontribusi pada perilaku kekerasan.
  3. Riwayat Kekerasan. Individu yang telah mengalami atau menjadi korban kekerasan dalam masa lalu mungkin memiliki kecenderungan lebih besar untuk mengekspresikan kekerasan dalam hubungan mereka.
  4. Penggunaan Zat Adiktif. Penyalahgunaan alkohol atau obat-obatan dapat mempengaruhi penilaian dan kontrol diri, meningkatkan risiko terjadinya KDRT.
  5. Isolasi Sosial. Ketika seseorang mengalami isolasi sosial atau kurangnya dukungan dari jaringan sosial, itu dapat meningkatkan tekanan emosional dan konflik dalam hubungan.
  6. Persepsi terhadap Maskulinitas atau Feminitas. Pandangan yang distorsioner terhadap peran maskulinitas atau feminitas dapat menciptakan ketidaksetaraan dan memberikan dasar bagi perilaku kekerasan.
  7. Tidak Mampu Mengatasi Stres. Individu yang kesulitan mengatasi stres atau tekanan hidup mungkin lebih rentan terhadap melampiaskan frustrasi melalui kekerasan.

  • B. Faktor Hubungan.
Beberapa faktor hubungan yang dapat berkontribusi terhadap terjadinya Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) melibatkan dinamika antara pasangan atau anggota keluarga. Berikut adalah beberapa contoh faktor tersebut:
  1. Ketidakseimbangan Kekuasaan. Adanya ketidaksetaraan atau ketidakseimbangan kekuasaan dalam hubungan dapat menciptakan lingkungan di mana salah satu pihak merasa berhak untuk menggunakan kekerasan sebagai bentuk kontrol.
  2. Konflik yang Tidak Diselesaikan. Konflik yang tidak diselesaikan dengan cara yang sehat dan konstruktif dapat berkembang menjadi bentuk kekerasan sebagai cara untuk mengekspresikan frustrasi atau ketidakpuasan.
  3. Komunikasi yang Tidak Efektif. Ketidakmampuan untuk berkomunikasi secara efektif dapat meningkatkan ketegangan dalam hubungan dan menjadi pemicu untuk penggunaan kekerasan sebagai bentuk ekspresi emosi.
  4. Siklus Kekerasan. Beberapa hubungan mungkin mengalami pola siklus di mana kekerasan terjadi, diikuti oleh penyesalan atau permintaan maaf, namun kemudian kembali ke fase kekerasan.
  5. Isolasi Sosial. Pasangan yang mengalami isolasi sosial, di mana mereka terputus dari dukungan keluarga atau teman-teman, mungkin lebih rentan terhadap kekerasan karena kurangnya jaringan dukungan.
  6. Tidak Adanya Batasan yang Jelas. Tidak adanya batasan atau norma yang jelas dalam hubungan dapat menciptakan ruang untuk tindakan kekerasan tanpa konsekuensi yang jelas.
  7. Pola Perilaku Destructive. Pola perilaku destruktif atau pengendalian yang termanifestasi dalam bentuk kekerasan dapat berkembang sebagai respons terhadap ketidakstabilan dalam hubungan.

  • C. Faktor Lingkungan.
Faktor lingkungan juga dapat berperan dalam terjadinya Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT). Beberapa contoh faktor lingkungan yang dapat memengaruhi risiko KDRT meliputi:
  1. Tekanan Ekonomi. Kesulitan keuangan atau tekanan ekonomi dalam sebuah rumah tangga dapat meningkatkan stres dan konflik, yang pada gilirannya dapat memicu kekerasan.
  2. Isolasi Geografis. Tinggal di daerah terpencil atau terisolasi sosial dapat membuat korban sulit untuk mencari bantuan atau dukungan, menciptakan lingkungan di mana kekerasan bisa lebih tersembunyi.
  3. Faktor Sosial dan Budaya. Norma budaya yang mendukung atau membenarkan kekerasan dalam rumah tangga dapat mempengaruhi perilaku individu dan memperkuat siklus KDRT.
  4. Kondisi Tempat Tinggal yang Tidak Aman. Tinggal di lingkungan yang tidak aman, termasuk kondisi tempat tinggal yang buruk atau terpencil, dapat membuat korban kesulitan melarikan diri atau mencari pertolongan.
  5. Beban Pekerjaan dan Stres Hidup.  Beban pekerjaan yang berlebihan atau tekanan hidup yang tinggi dapat menciptakan ketegangan dalam hubungan, meningkatkan risiko KDRT.
  6. Pola Asosial atau Tertutup. Sistem dukungan sosial yang lemah atau kurangnya keterlibatan dalam kegiatan sosial dapat meningkatkan isolasi dan risiko KDRT.

  • D. Faktor Budaya dan Sosial.
Faktor budaya dan sosial memiliki dampak signifikan terhadap terjadinya Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT). Beberapa contoh faktor ini meliputi:
  1. Norma Budaya. Norma-norma budaya yang membenarkan atau menghormati kekerasan dalam hubungan dapat membentuk sikap dan perilaku individu dalam suatu masyarakat.
  2. Ketidaksetaraan Gender. Sistem sosial yang mendukung ketidaksetaraan gender dapat menciptakan lingkungan di mana kekerasan terhadap pasangan, terutama terhadap perempuan, dianggap wajar atau diterima.
  3. Tekanan Peran Gender. Harapan stereotip terhadap peran gender, seperti harapan bahwa seorang pria harus dominan atau seorang wanita harus patuh, dapat menciptakan ketidaksetaraan dan konflik yang berpotensi berujung pada KDRT.
  4. Stigma terhadap Perceraian atau Pemisahan. Dalam beberapa budaya, stigma terhadap perceraian atau pemisahan dapat memaksa individu untuk tetap berada dalam hubungan yang berpotensi berbahaya.
  5. Kondisi Ekonomi dan Sosial. Kemiskinan, ketidaksetaraan ekonomi, dan ketidaksetaraan akses terhadap sumber daya dapat memicu ketegangan dalam hubungan dan meningkatkan risiko KDRT.
  6. Pendidikan dan Kesadaran. Tingkat pendidikan dan tingkat kesadaran tentang hak-hak individu serta dampak buruk KDRT dapat mempengaruhi tingkat kekerasan dalam masyarakat.
  7. Media dan Peran Model Daripada memberikan contoh perilaku yang sehat, media kadang-kadang memperkuat norma kekerasan dan dapat mempengaruhi cara individu merespon konflik dalam hubungan.
Menanggulangi KDRT melibatkan perubahan budaya dan sosial, peningkatan kesadaran masyarakat, dan dukungan terhadap nilai-nilai yang mendorong hubungan yang sehat dan saling menghormati.

  • E. Siklus Kekerasan.
Siklus kekerasan merujuk pada pola perilaku tertentu yang seringkali terjadi dalam hubungan kekerasan, terutama dalam konteks Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT). Siklus ini dapat diterapkan baik pada tingkat individu maupun pada tingkat hubungan. Meskipun tidak semua kasus KDRT mengikuti pola yang sama, siklus ini dapat memberikan pemahaman tentang bagaimana kekerasan dapat berkembang dan berlanjut. Siklus kekerasan umumnya melibatkan empat tahap:
  1. Fase Tension Building (Membangun Ketegangan). Fase ini ditandai oleh peningkatan ketegangan dan konflik dalam hubungan. Ada ketidakseimbangan kekuasaan, dan korban mungkin mencoba menghindari pelaku untuk menghindari eskalasi konflik.
  2. Fase Incident (Insiden Kekerasan): Fase ini adalah saat terjadinya tindakan kekerasan. Pelaku melepaskan ketegangan dan frustrasinya melalui tindakan fisik, verbal, atau emosional yang merugikan korban.
  3. Fase Reconciliation (Rekonsiliasi). Setelah insiden kekerasan, pelaku mungkin menunjukkan penyesalan atau penyesalan. Mereka bisa meminta maaf, menjanjikan perubahan, atau berusaha "menenangkan" korban. Korban dapat merespons dengan menerima permintaan maaf atau mencoba meredakan situasi.
  4. Fase Calm (Ketenangan). Fase ini ditandai oleh periode relatif tenang di mana tidak ada kekerasan yang terjadi. Hubungan mungkin tampak stabil atau bahkan bahagia untuk sementara waktu.
Siklus ini dapat berulang dan terus menerus. Meskipun siklus kekerasan dapat bervariasi dalam durasi dan intensitasnya, konsep ini membantu menggambarkan dinamika kekerasan yang terjadi dalam suatu hubungan. Penting untuk diingat bahwa tidak semua hubungan yang melibatkan kekerasan mengikuti siklus ini, dan pola perilaku dapat berbeda-beda antar kasus.

Penting untuk mendekati masalah KDRT dengan serius, dan korban perlu mendapatkan dukungan dan bantuan untuk keluar dari lingkaran kekerasan. Melibatkan lembaga bantuan dan sumber daya yang ada dapat membantu korban memutus siklus kekerasan dan membangun kehidupan yang aman dan sehat.

Penting untuk diingat bahwa setiap kasus KDRT unik, dan seringkali kombinasi beberapa faktor yang berkontribusi pada terjadinya kekerasan. Mengatasi KDRT memerlukan pendekatan yang holistik, termasuk upaya pencegahan, edukasi, dan dukungan bagi korban serta pelaku agar dapat mengubah perilaku mereka.

Dampak Terhadap Anak Korban KDRT

KDRT dan cara menyikapinya
Pict. Pixabay


Anak-anak yang menjadi saksi atau korban Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) dapat mengalami dampak yang serius pada kesejahteraan dan perkembangan mereka. Beberapa dampak yang mungkin terjadi meliputi:
  1. Masalah Kesehatan Mental. Anak-anak yang terpapar pada KDRT dapat mengalami stres, kecemasan, depresi, dan masalah kesehatan mental lainnya.
  2. Masalah Perilaku. Perilaku luar biasa, seperti agresi, kemarahan, atau perilaku mengisolasi diri, mungkin muncul sebagai respons terhadap situasi KDRT yang mereka saksikan atau alami.
  3. Masalah Akademis. KDRT dapat mengganggu fokus dan konsentrasi anak-anak, mempengaruhi pencapaian akademis mereka, dan menghambat perkembangan kognitif.
  4. Keterlambatan Perkembangan Sosial dan Emosional. Anak-anak korban KDRT mungkin mengalami keterlambatan dalam perkembangan keterampilan sosial dan emosional, kesulitan membentuk hubungan antarpersonal yang sehat.
  5. Meningkatkan Risiko KDRT di Masa Depan. Anak-anak yang tumbuh dalam lingkungan KDRT mungkin memiliki risiko lebih tinggi untuk terlibat dalam hubungan berbasis kekerasan di masa dewasa.
  6. Masalah Kesehatan Fisik. Anak-anak dapat mengalami masalah kesehatan fisik akibat stres kronis, seperti sakit perut, sakit kepala, atau masalah tidur.
  7. Ketidakstabilan Emosional dan Ketidakamanan. Lingkungan rumah tangga yang penuh dengan KDRT dapat menciptakan rasa ketidakamanan dan ketidakpastian, yang dapat mengganggu perkembangan emosional anak-anak.
  8. Pola Hubungan yang Tidak Sehat. Anak-anak dapat menginternalisasi pola hubungan yang tidak sehat yang mereka saksikan, yang mungkin mempengaruhi cara mereka membentuk hubungan di masa dewasa.
  9. Kecenderungan Meniru Perilaku. Anak-anak cenderung meniru perilaku yang mereka lihat, termasuk perilaku kekerasan, dalam interaksi mereka dengan teman sebaya atau anggota keluarga lainnya.
  10. Kesulitan Membentuk Identitas dan Nilai Diri. Pengaruh lingkungan KDRT dapat menghambat pembentukan identitas dan nilai diri anak-anak, mempengaruhi pandangan mereka terhadap diri sendiri dan dunia.

Lakukan Ini Jika melihat KDRT

Jika Anda menyaksikan atau mengetahui adanya Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT), langkah-langkah yang dapat diambil meliputi:
  1. Prioritaskan Keselamatan. Jika ada keadaan darurat atau risiko serius terhadap keselamatan, segera hubungi pihak berwenang atau layanan darurat setempat.
  2. Jangan Campur Tangan Langsung dalam Kekerasan. Meskipun sangat ingin membantu, hindari campur tangan langsung dalam situasi kekerasan fisik, karena hal ini dapat meningkatkan risiko cedera baik bagi Anda maupun korban.
  3. Panggil Bantuan Darurat. Hubungi nomor darurat setempat atau pusat bantuan KDRT yang ada di wilayah Anda. Mereka memiliki sumber daya dan petunjuk untuk menanggapi situasi tersebut.
  4. Dukung dan Dengarkan Korban. Berikan dukungan emosional kepada korban KDRT. Dengarkan ceritanya tanpa menghakimi, dan berikan keyakinan bahwa kekerasan tersebut bukan kesalahan mereka.
  5. Ajak Korban untuk Mencari Bantuan Profesional. Dorong korban untuk mencari bantuan profesional, seperti konselor, pekerja sosial, atau lembaga bantuan KDRT yang dapat memberikan dukungan dan sumber daya.
  6. Laporkan pada Pihak yang Berwenang. Jika Anda memiliki informasi atau bukti terkait KDRT, laporkan pada pihak berwenang untuk memulai proses penegakan hukum.
  7. Tetap Bersedia Membantu. Tetap bersedia membantu korban dan memahami bahwa proses untuk keluar dari situasi KDRT bisa rumit. Mereka mungkin membutuhkan dukungan jangka panjang.
  8. Dukung Pendidikan dan Kesadaran. Terlibat dalam kampanye pendidikan dan kesadaran masyarakat tentang KDRT. Menyebarkan informasi dapat membantu mengurangi stigma dan meningkatkan pemahaman masyarakat.

Penting untuk memberikan dukungan dan perlindungan bagi korban KDRT terutama anak-anak yang terlibat dalam situasi KDRT. Layanan bantuan psikologis, konseling, dan dukungan keluarga dapat membantu mengurangi dampak negatif yang mungkin mereka alami. Semoga informasi ini bermanfaat.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Insto Dry Eyes, Solusinya Mata Kering

Kemana-mana mesti bawa Insto Dry Eyes . Obat tetes mata yang biasa Saya gunakan untuk atasi mata kering akibat terlalu lama terpapar layar smartphone . Sejak memutuskan mencari penghasilan lain selain menulis di beberapa platform, yakni menjadi admin sebuah management , tentu saja saya semakin lama bersentuhan dengan smartphone, bisa dibilang selama 24 jam hanya 9 jam mata beristirahat. Apalagi ada job dadakan, sayang donk dilepas begitu saja, kan lumayan duitnya buat jajan anak dan menambah kebutuhan dapur. Tapi ya itu resikonya, mata jadi makin lama menatap layar karena mesti cek spreadsheet hasil kerjaan satu per satu, belum lagi ada deadline tulisan yang sudah mepet harus disetor, ditambah terpapar kipas angin saat proses pengerjaan deadline dan pengecekan karena akhir-akhir ini cuaca begitu panas, alhasil membuat mata makin perih bahkan pegel. Mata juga jadi mengalami sepet luar biasa akibat kurang tidur. Andai mata bisa berteriak, pastilah dia minta tolong. Tapi ya, mau gimana

Review Salah Satu Karya Cerpen dari Kumpulan Cerpen Garwa: Sigaraning Nyawa

Halo sobatq, siapa diantara kalian yang suka membaca cerpen, novel dan buku lainnya? Kalau Saya suka banget, dan alhamdulillah sudah beberapa buku antologi cerpen dan puisi yang salah satunya terdapat karya Saya. Seperti baru-baru ini, Saya bersama teman-teman penulis dari berbagai latar, hingga berbagai daerah telah berhasil membukukan karya setelah mengikuti kelas KMO Batch 26 kelompok 11 beberapa waktu lalu. Kumpulan cerpen tersebut kami beri judul Garwa: Sigaraning Nyawa. Jadi, Garwa ini sering dipahami dengan “Sigaraning Nyawa” yang artinya belahan nyawa atau belahan jiwa. Yang tentunya memiliki makna jika istri adalah belahan jiwa bagi suaminya. Oiya, hampir terlupa. KMO atau Komunitas Menulis Online ini kerap mengadakan kelas belajar secara online loh. Dan, ketika nama kita terdaftar, kita akan di add di whatsapp grup dan grup khusus telegram. Tapi, ada tantangannya setelah kelas berjalan, dan tugas harus dikerjakan sesuai deadline yang diberikan. Jika sebanyak 3 kali kita tidak

Menata Hati Dalam Meraih Mimpi Setelah Tertipu Modus Endorse Bersama ASUS OLED

Kronologi Kejadian Malang tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih. "Ayuk, ada job posting di Instagram, minfoll, fee + reimburse. Mau gak?" "Iya, mau." "Ini link WAG-nya, gabunglah!" "Ok!" Seperti biasa, jika ada informasi job adikku akan share via japri di WhatsApp , begitu pula sebaliknya jika ada info job yang Saya dapatkan maka akan Saya share juga ke dia. Setelah akhirnya berhasil masuk grup, Saya pun tidak langsung mendaftarkan diri namun masih melihat situasi, "Apakah benar akan di reimburse ?"  Beberapa menit kemudian grup sudah dipenuhi dengan chat - teman termasuk adikku - yang sudah mulai melakukan pemesanan, mulai dari jenis pesanan (scarf/pasmina, tunik, gamis, Koko + sarung, sarimbit couple hingga sarimbit keluarga), ukuran yang dipesan, hingga segala macam prosedur yang meyakinkan jika campaign ini memang benar adanya, bukan tipu-tipu. Terlebih yang menjadi penanggung jawab di grup juga seorang teman satu profesi (di g